Sebagai pemula di dunia pendakian gunung, Merbabu adalah
gunung kedua yang saya naiki, gunung pertama ialah gunung Ungaran. Gunung
Ungaran memiliki track yang tidak begitu sulit dan tidak terlalu tinggi hanya
sekitar 2100 mdpl, itulah sebabnya mengapa saya memilih gunung ini sebagai
pendakian pertama saya. Nah, untuk Merbabu saya akui track-nya sangat sulit
(bagi saya) dan tingginya melibihi gunung Merapi yakni 3145 mdpl. Apa saja
kesulitannya? Nanti akan saya bahas.
Sebenarnya, pendakian ini diluar dari rencana. Awalnya, saya
diajakin sama temen-temen kantor lama dan saya sudah menolak ajakan ini tetapi
seminggu sebelum berangkat saya berubah pikiran dan mengiyakan kembali ajakan
tersebut. Jumat malam, 21 April 2017 kita berangkat, total ada 13 orang. Saya
berangkat sendiri dengan menggunakan kendaraan umum dan 12 orang lainnya
berangkat dari Jakarta dengan menggunakan mobil carteran. Ada beberapa jalur
pendakian yang biasa digunakan yakni via Selo, via Kopeng, dan via Suwanting. Kita (lebih
tepatnya mereka) sepakat memilih via Suwanting karena pemandagan yang lebih
indah dan jalur ini terbilang baru dibandingkan dengan kedua jalur lainnya.
Cara saya menuju basecamp pendakian Suwanting adalah
pertama saya berangkat menuju Yogyakarta (turun diterminal Jombor), dari
terminal Jombor saya melanjutkan perjalanan ke perempatan Blabak (terletak di
jalan raya Magelang) dengan menggunakan bus tujuan terminal Magelang atau
Semarang (waktu itu saya menggunakan bus tujuan Semarang dengan tarif Rp. 10.000
ribu). Setelah sampai di perempatan Blabak, tujuan selanjutnya adalah desa
Tlatar, untuk menuju desa Tlatar dapat menggunakan angkot berwarna kuning.
Untuk tarif, saya kurang paham karena kemarin saya mendapat tumpangan motor
gratis dari bapak-bapak yang iba meilhat saya kelamaan menunggu si angkot
kuning yang tak kunjung datang, tapi menurut warga sekitar tarif angkot menuju
Tlatar Rp. 5.000 rupiah. Sesampainya di Tlatar, perjalanan selanjutnya adalah menuju
desa Suwanting. Ada beberapa alternatif yang bisa kita gunakan menuju desa Suwanting.
Pertama, carter angkot dan langsung berhenti di depan basecamp pendakian tetapi
harga relatif mahal. Kedua adalah naik angkot dengan biaya yang lebih murah
tetapi tidak sampai pada basecamp pendakian jadi nanti dilanjutkan perjalanan
kaki menuju basecamp (saya kurang paham sejauh apa dan pilihan ini katanya
sudah relatif jarang), dan yang terakhir adalah naik ojek dengan harga Rp. 25.000
dan turun tepat di depan basecamp pendakian. Saya lebih memilih menggunakan
ojek karena disarankan oleh bapak2 baik penjual pupuk. Kenapa saya bilang baik
karena beliau memberikan saya pisang goreng panas, teh panas, wifi gratis. Hahahaha
Sabtu, pukul 9 pagi saya tiba di basecamp pendakian
Suwanting, sedangkan teman-teman dari jakarta belum tiba. Sembari menunggu
mereka, saya lebih memilih beristirahat dan tidur. Sekitar jam 12 siang meraka
tiba dan kami bersiap2 memulai pendakian. Sekitar jam 13.30 siang, kami berdoa dan memulai pendakian
Merbabu. Cihuyyyyy......
 |
| Track menuju Pos 2 |
Via Suwanting, ada 3 pos pendakian. Dari posisi start ke Pos
1 tidak begitu jauh hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan track pendakian
yang terbilang mudah. Pemandangan lahan perkebunan warga serta hutan pohon
pinus akan memanjakan perjalanan anda. Untuk masalah air jangan khawatir,
terdapat beberapa pos air di sepanjang jalur pendakian ini. Dari Pos 1 menuju Pos 2, track yang sulit sudah menanti
kedatangan kami, tanjakan terjal, jalanan yang licin dan akar-akar pohon sudah
siap untuk kami lalui. Jalanan cukup licin dikarenakan sedang turun hujan.
Sepanjang perjalanan tidak ada pemandangan yang spesial hanya terdapat hutan
lebat biasa. Pukul 18. 45 malam kami tiba di Pos 2 dan memutuskan untuk bermalam
di sana dikarenakan sedang turun hujan lebat. Lalu kami mendirikan tenda,
memasak dan langsung makan malam. Setelah semuanya beres, kamipun beristirahat
di tenda ala kadarnya dengan kontur tanah yang miring di dua sisi ( aing
gak bisa tidur). Total perjalanan menuju Pos 2 adalah 4 jam 15 menit.
 |
| Track menuju Puncak Triangulasi |
Pukul 01.00 pagi, hujan berhenti dan kami melanjutkan
perjalan menuju Pos 3. Seluruh peralatan kami tinggalkan di tenda dan hanya
membawa peralatan seperlunya serta barang-barang berharga (HP, Kamera, Dompet). Track
kali ini lebih sulit (asli parah), terdapat beberapa lobang atau parit besar
sepanjang perjalanan (bekas longsor mungkin). Sepanjang perjalan akan disuguhi
dengan pemandangan hutan gugur (pohon tak berdaun) dan hutan savana. Pukul 05.00
pagi, kami tiba di Pos 3 dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan
menuju Puncak Triangulasi dan Kedong Songo. Jam 8.30 kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Merbabu, tetapi tidak semua berangkat karena ada 2 temen kami yang tidak kuat melanjutkan perjalanan dan lebih memilih stay di Pos 3. Sepanjang perjalanan kami terkejut dengan dengan indahnya pemandangan yang tersaji. Mulai dari Hutan Savana yang diselimuti dengan awan putih lebat, gunung Merapi, Bukit-bukit indah. Jam 10.00 pagi kami tiba di puncak suwanting (bukan puncak merbabu) dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Jam 10.30 kami melanjutkan perjalanan tetapi tidak full team karena 3 orang teman kami kelelahan dan memutuskan untuk kembali ke Pos 3. Menuju puncak, track yang dilalui tidak terlalu sulit hanya berupa tanjakan dataran yang cukup panjang. Pukul 12.00 kami pun tiba di puncak Triangulasi dan Kedong Songo. Keindahan alam yang begitu luar biasa membuat saya takjub dan merinding. Bagaimana tidak, bentangan bukit yang begitu luas dan saya bisa bersentuhan langsung dengan awan yang membuat saya tidak bisa melihat daratan sama sekali.
 |
| Hutan Gugur Merbabu |
 |
| Hutan Sabana Merbabu |
 |
| Puncak Suwanting |
 |
In frame with amazing partner at Suwanting
|
Setelah puas menikmati pemandangan yang ada, kami bergegas
dan kembali turun. Pada saat turun waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat
dibandingkan naik. Dari puncak Merbabu hingga Pos 2, kami hanya menghabiskan
waktu sekitar 4 jam-an. Setibanya di Pos 2, kami memutuskan untuk istirahat
sebentar, makan siang, dan bergegas turun. Setelah semuanya beres, sekitar jam
19:00 kami pun melanjutkan perjalanan pulang dengan ditemani hujan yang lumayan
lebat. Jalanan licin, gelap dan cuaca yang dingin memaksa kami untuk mengambil
waktu istirahat sejenak. Nah, setengah perjalanan berlalu kami terpisah menjadi
2 tim, saya lupa apa penyebabnya haha. Di tim saya ada 6 orang (3 bapak2, 2
anak muda, 1 ibu2, 1 anak gadis). Entah apa penyebabnya, di tim saya ini banyak
sekali kejadian yang menguras kesabaran. Yang pertama, 2 orang mengalami kram
kaki sehingga untuk berdiripun susah dan harus ditopang pelan-pelan. Kedua, pas
mau sampai di pos 1, salah satu temen kami ada yang pingsan, untuk sadarnya
cepat. Jadi 4 orang yang tersisa harus bagi tugas dan bekerja ekstra. Saya
memilih untuk membawa satu tas carrier dan menopang teman saya yang pingsan
haha. Kami tiba di Pos 1, ada tukang ojek dan kami memutuskan untuk kembali ke
bacesamp menggunakan ojek.
 |
Lay down on the grass
|
 |
Backgroung Gunung Merapi
|
 |
| Icon Puncak Kedong Songo |
Komentar
Posting Komentar